SEMANGAT PELATIHAN TIM REAKSI CEPAT ( TRC )
Tanggal: Kamis, 15 September 2016
Topik:


SEMANGAT PELATIHAN TIM REAKSI CEPAT ( TRC )

 

 

Apa yang terlintas dibenak kita ketika mendengar kata pelatihan? Membosankan, capek, ngantuk, tidak ada gunanya? Tapi pelatihan Tim Reaksi Cepat ( TRC ) di PSAA Tunas Bangsa Pati berbeda, pelatihan ini sangat seru, menyenangkan, mudah dipahami dan yang paling penting benar-benar menambah wawasan tentang tanggap darurat bencana serta membuat para peserta kompak. Kegiatan Pelatihan TRC dilaksanakan selama dua hari yaitu hari senin sampai dengan selasa tanggal 5-6 September 2016. Tujuan dari kegiatan ini agar peserta mampu memahami tentang dukungan psikososial dalam menangani korban bencana. Karena selama ini untuk penanganan korban bencana lebih dikenal dengan nama trauma healing, yang cakupannya lebih sempit. Dukungan psikososial cakupannya lebih luas meliputi aspek psikologis dan aspek sosial dalam lingkungan dimana individu atau masyarakat berada. Tujuan dari dukungan psikososial adalah mengembalikan individu, keluarga, masyarakat agar setelah peristiwa bencana terjadi dapat secara bersama menjadi kuat, berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah sehingga menjadi produktif dan berdaya guna. Dengan latihan ini, diharapkan petugas dapat selalu sigap apabila terjadi masalah kedaruratan dan dapat menanganinya dengan optimal. Hal ini erat hubungannya dengan alih fungsi PSAA menjadi PSBL dimana petugas harus selalu sigap apabila terjadi kedaruratan, ataupun ketika ada kasus dimasyarakat yang butuh penanganan baik penanganan langsung maupun rujukan.



 

Hari Pertama, 5 September 2016

Hari Pertama kegiatan dibuka oleh Ibu Jiwa selaku Kepala PSAA Tunas Bangsa Pati di Ruang Rapat PSAA Tunas Bangsa Pati. Dalam sambutannya Bu Jiwa mengucapkan selamat datang kepada Bu Helena Sigit W atau biasa disapa Bu Menik dari Yakum Emergency Unit ( YEU ) sebagai trainer . Bu Jiwa mengungkapkan bahwa materi yang nantinya akan disampaikan oleh Bu Menik sangat diperlukan untuk tugas TRC. Walaupun tidak semua pegawai menjadi TRC tetapi kegiatan ini diikuti oleh semua pegawai dengan tujuan agar semua pegawai tahu penanganan pada saat bencana. Apalagi Jawa Tengah sering terjadi bencana seperti banjir Pati, longsor Banjarnegara dan Purworejo. Kegiatan ini juga untuk mempersiapkan pegawai menghadapi alih fungsi PSAA menjadi PSBL, terutama mendukung pelaksanaan program bebas pasung. Bu Jiwa juga mengharapkan peserta dapat mengetahui istilah-istilah dan penanganan-penanganan yang dilakukan pada saat bencana, karena ada beberapa perkembangan ilmu dalam penanganan bencana. Di akhir sambutan Bu Jiwa mengharapkan peserta serius mengikuti kegiatan ini sehingga tujuan dari pelatihan ini tercapai. Selesai pembukaan diadakan pre test untuk mengetahui kemampuan peserta dalam penanganan bencana sebelum pelatihan. Setelah selesai pembukaan, peserta pindah ke aula besar untuk mengikuti pelatihan. Bu Menik sudah menyiapkan beberapa materi yang ditempelkan di dinding. Sesi pertama Bu Menik membagi kelompok menjadi tujuh dan masing-masing kelompok mendiskusikan definisi bencana dan psikososial menurut masing-masing kelompok. Setelah itu setiap kelompok menilai hasil kerja kelompok lain dengan memberikan skor dan menjelaskan kenapa memberikan skor tersebut. Sesi kedua Bu Menik memberikan instruksi kepada peserta untuk menuliskan tiga hal terpenting dari masing-masing peserta di tiga kertas berbeda, peserta memejamkan mata dan Bu Menik mengambil kertas-kertas tersebut, ada yang terambil semua, satu , dua dan ada yang tidak terambil sama sekali. Setiap peserta menjelaskan apa yang hilang dan perasaan yang dialami. Itu merupakan ilustrasi dari kejadian bencana yang bisa merenggut hal-hal yang berharga dari orang. Sesi ketiga peserta diminta untuk membuat diagram komunitas, dan menjelaskannya. Selanjutnya Bu Menik merubah diagram komunitas dari masing-masing kelompok, ada yang meninggal, ada yang hilang dan ada yang berpotensi difabel. Kemudian masing-masing kelompok diminta untuk menjelaskan ketika kejadian tersebut terjadi, apa yang harus dilakukan. Sesi terakhir Bu Menik meminta peserta untuk mengurutkan piramida psikososial, dilanjutkan teori mengenai dukungan psikososial dalam penanganan bencana.

Hari Kedua, 6 September 2016

Hari kedua pelatihan dilaksankaan di Global Water Boom. Sesi pertama peserta diminta mendiskusikan mengenai hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan pada saat penanganan bencana. Kemudian Bu Menik menjelaskan Kode Etik Kemanusiaan Internasional, Core Prinsiples on MHPSS ( Mental Health & Psychosocial Support ) dan mencocokkan apakah kode etik internasional sudah termuat dalam hasil diskusi. Sesi kedua Bu Menik meminta peserta untuk mendiskusikan mengenai hal-hal yang sepertinya biasa dilakukan tetapi memberikan dampak negatif, berdasarkan kelompok umur, anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Sesi ketiga peserta diminta untuk mendiskusikan mengenai Standar Kemanusiaan inti dalam hal kualitas dan akuntabilitas, dan memberikan contoh untuk masing-masing point, dan menjelaskannya. Sesi keempat peserta diminta untuk melakukan pemeranan mengenai penanganan bencana yang menggambarkan mengenai : dukungan psikososial, bimbingan masyarakat, koordinasi dan jejaring serta komunikasi. Sesi keempat peserta diminta untuk mengisi post test dan pelatiha ditutup oleh Bapak Giri Selaku Ka Sub Bag Tata Usaha. ( diah fajarini )







Artikel dari PSAA Tunas Bangsa Pati
http://tunasbangsa.depsos.go.id

URL:
http://tunasbangsa.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=67